Wayangan di Titik Nol, Teguh Haryono: Ruwatan Nusantara Akhir Tahun

Kamis, 28 Desember 2023 - 13:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Rangkaian Ruwatan Nusantara yang ke 6 ini tepat diselenggarakan di akhir tahun 2023 dan di Titik Nol Ibu Kota Nusantara, setelah yang ke 5 pekan lalu di Pidie Aceh, yang ke 4 di Pulau Alor NTT, yang ke 3 di Purwakarta Jawa Barat, yang ke 2 di Jepara Jawa Tengah dan yang pertama di Kediri Jawa Timur

Foto : Rangkaian Ruwatan Nusantara yang ke 6 ini tepat diselenggarakan di akhir tahun 2023 dan di Titik Nol Ibu Kota Nusantara, setelah yang ke 5 pekan lalu di Pidie Aceh, yang ke 4 di Pulau Alor NTT, yang ke 3 di Purwakarta Jawa Barat, yang ke 2 di Jepara Jawa Tengah dan yang pertama di Kediri Jawa Timur

ANALISAKALTIM.COM – Tahun 2023 tinggal beberapa hari lagi, Rombongan Daulat Budaya Nusantara sudah tiba di Ibukota Nusantara untuk menyiapkan Pagelaran Wayang dengan Lakon Semar Mbangun Kahyangan. Rangkaian Ruwatan Nusantara yang ke 6 ini tepat diselenggarakan di akhir tahun 2023 dan di Titik Nol Ibu Kota Nusantara, setelah yang ke 5 pekan lalu di Pidie Aceh, yang ke 4 di Pulau Alor NTT, yang ke 3 di Purwakarta Jawa Barat, yang ke 2 di Jepara Jawa Tengah dan yang pertama di Kediri Jawa Timur.

“Daulat Budaya Nusantara ini sesuai visinya menjadi Pertahanan Kebudayaan. Alhamdulillah di akhir tahun 2023 kita telah sampai di lokasi Ruwatan yang ke enam di Ibu Kota Nusantara. Semoga Ruwatan ini membawa barokah untuk bangsa Indonesia menapaki masa depan dengan selalu menjunjung tinggi kebudayaan, karena pertahanan terbaik bangsa kita adalah kebudayaan” jelas Teguh Haryono, Doktor Ilmu Pertahanan dari Universitas Pertahanan yang menjadi inisiator Daulat Budaya Nusantara dan perwakilan dari Indika Energi.

Dari sekian kali Ruwatan Nusantara di lima titik di Indonesia dengan pertunjukan Pagelaran Wayangan ini, boleh jadi hanya di Ibu Kota Nusantara lah yang diselenggarakan di luar pemukiman penduduk atau bisa dikatakan di tengah hutan. Dalam imajinasi Mbah Tejo yang menjadi dalang Ruwatan Nusantara, pagelaran Wayang kali ini dipersembahkan untuk para leluhur, danyang, demit, hewan dan tumbuhan yang merasakan getaran spiritual dari bunyi bunyi lakon Semar Mbangun Kahyangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Semalam suntuk kita akan jagongan (nongkrong) dalam tawa tangis dan do’a, hahaha…” kekeh Sujiwo Tejo, Dalang Ruwatan Nusantara yang juga Presiden Jancukers yang terlibat dalam inisiasi Daulat Budaya Nusantara.

“Kami bersyukur sampai pada titik ke enam Ruwatan Nusantara dengan selamat, isyarohnya sangat jelas, ada pertanda dan penanda zaman untuk menutup akhir tahun millennium di Ibu Kota Nusantara dengan kedaulatan penuh atas kebudayaan yang kita miliki bersama seluruh alam dan isinya”, tambah Gus Benny Zakaria Kurniawan, pengasuh Pondok Alam Adat Budaya Nusantara yang menjadi inisiator Daulat Budaya Nusantara.

Nusantara dibentuk oleh gugusan pulau pulau, ada lima pulau besar dan belasan ribu pulau kecil termasuk atol di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara geografis, Indonesia berada di wilayah lingkaran api pasifik atau cincin api pasifik dimana merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia seperti Lempeng Indo-Austalia, Lempeng Eurasia dan Lempek Pasifik, yang memiliki resiko bencana alam yang lebih kuat dari bangsa lain yang ada di bumi ini.

“Ruwatan ini harmonisasi, secara anthropologi ada nacer dan kalcer. Nacer itu alam dan kalcer itu manusia. Ketika alam lebih kuat dari manusia, pada masa lalu lelehur kita melakukan harmonisasi dengan ruwatan sebagai jembatan penyembang antara alam dengan manusia. Hari ini, kalcer (manusia) lebih kuat, akibatnya nacer (alam) tereksploitasi secara serampangan. Nah, ruwatan ini menyeimbangkan agar eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia diseimbangkan sesuai dengan apa yang diajarkan leluhur kita selama ratusan tahun”, terang Kyai Paox Iben Mudhaffar, pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo, salah satu inisiator Daulat Budaya Nusantara.

Hari ini kebudayaan nusantara lemah, generasi muda diserang oleh algoritma yang disusun bangsa lain, pada akhirnya kita mendapati kebudayaan yang mengekor kebudayaan bangsa lain, sedangkan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia sangat kaya, sebut saja dalam catatan ethnologi, bahasa daerah yang kita miliki sebanyak 715 bahasa, ini menjadi bahasa terbanyak kedua di dunia.

“Jumlah generasi muda dengan kategori Gen Z sekitar 28 persen atau 75 juta jiwa, sementara jumlah pesantren di Indonesia adalah 39 ribu dengan santri sebanyak 4 juta jiwa. Ini artinya sekitar 20 persen gen z adalah santri, nah salah satu strategi Daulat Budaya Nusantara adalah memahamkan para santri untuk mengubah peradaban nusantara”, tegas Gus Hamid Abdulloh, pendiri Dunia Santri Community yang menjadi inisiator Daulat Budaya Nusantara.

Berita Terkait

Capaian Keberhasilan di Lima Tahun Kepemimpinan Isran Noor – Hadi Mulyadi Untuk Kaltim
Sosper di Desa Suka Maju, Abdul Jawad Tegaskan Pentingnya Perda Bantuan Hukum
Anggota DPRD Kaltim H.A Jawad Sirajuddin Gelar Sosbang, Bentuk Upaya Memperkuat NKRI
Mahasiswa Minta KY Periksa Hakim di Pengadilan Tinggi, Buntut Vonis Bebas Terdakwa Korupsi
Dukung Kedamaian Demokrasi, Pemuda Peduli Demokrasi Samarinda : Usut Tuntas Conie Bakrie
Pengadaan Tanah Wilayah IKN Tidak Boleh Merampas Hak Masyarakat
Komunitas Pelopor Kebaikan Kota Bontang Gelar Launching Sekaligus Buka Puasa Bersama dan Sharing Ramadhan, Harapkan Memberikan Dampak Positif ke Masyarakat
Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Bantuan Hukum, Abdul Jawad ; Bantuan Hukum Gratis Untuk Warga Kaltim
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Mei 2024 - 21:34 WITA

Sani Respon Soal Kuranganya Ketertarikan Generasi Muda Untuk Menjadi Seorang Guru

Senin, 20 Mei 2024 - 21:15 WITA

Dewan Ini Sebut Kesejahteraan Guru Harus Diperhatikan Oleh Calon Pimpinan Daerah

Senin, 20 Mei 2024 - 20:45 WITA

Gaji Guru dari Dana Pendidikan, Sani : Secara Aturan itu Tidak Boleh

Senin, 20 Mei 2024 - 20:15 WITA

Air Bersih Yang Sulit, Novan Sebut Pemkot Samarinda Jangan Terfokus Pada Pembangunan Infrastruktur Saja

Sabtu, 18 Mei 2024 - 20:37 WITA

DPRD Samarinda Sebut Pentingnya Penanaman Karakter Dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 18 Mei 2024 - 19:48 WITA

Deni Sebut Perlu Ada Upaya Sosialisasi Kepada Masyarakat Guna Menekan Angka Kekerasan Seksua

Sabtu, 18 Mei 2024 - 19:33 WITA

Dewan Ini Sebut Perlunya Dilakukan Pembebasan Lahan Dalam Pembangunan Pelabuhan

Jumat, 17 Mei 2024 - 21:30 WITA

Sengketa Ahli Waris dan BNI, DPRD Samarinda Gelar RDP dan Jadi Penengah

Berita Terbaru